Sumber: Dokumen Pribadi
1. Akar
Sistem perakaran tanaman Buni berupa sistem perakaran tunggang. Sistem perakaran ini terdiri dari sebuah akar berukuran besar dengan beberapa cabang dan ranting akar. Akar tunggang memiliki kambium. Ciri-ciri akar ini adalah berbentuk lurus ke bawah dan akan terus memanjang serta membesar. Akar lembaga pada tumbuhan yang berakar tunggang akan berkembang menjadi akar pokok. Tanaman yang berakar tunggang akan lebih tahan terhadap kekeringan karena akarnya menembus jauh ke dalam tanah untuk mendapatkan air dan mineral. Sistem akar tunggang adalah lanjutan dari akar primer, yaitu akar yang berasal dari calon akar saat tanaman berkecambah. Akar ini terus berkembang dengan menumbuhkan akar lateral atau akar samping yang tumbuh dari akar primer. Hal ini menyebabkan tanaman menjadi kokoh dan sukar dicabut.
Sumber: https//jagad.id
2. Batang
Tanaman Buni merupakan tanaman perdu. Namun, kadang tanaman ini juga ditemukan sebagai semak. Umumnya tanaman ini adalah pohon yang dapat tumbuh hingga setinggi 15-30 meter, meski pun biasanya berukuran jauh lebih kecil. Dalam spesimen pohon Buni yang lebih besar, diameter batangnya dapat mencapai 1 meter dengan batang yang tidak bercabang hingga 10 meter dan tumbuh lurus. Tetapi sering juga ditemukan dengan batang bergalur atau dengan penopang yang tingginya dapat mencapai 3 meter. Batang pohon Buni kebanyakan berwarna coklat, kuning coklat, karamel keabu-abuan atau bahkan abu-abu licin. Batang utama bercabang banyak sehingga membentuk tajuk yang rindang. Batang bertekstur kasar atau halus, biasanya terdapat banyak retak-retak vertikal dan mengelupas atau dengan tonjolan kecil yang tersebar. kulit bagian dalam berwarna coklat kemerahan. Kayu luar pohon ini keras dan padat. Kadang-kadang sedikit bau pada kayu potong.
Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi
Tanaman ini berdaun tunggal dengan panjang daun 10-22 cm, dan lebar 5-7 cm. Daun yang masih muda berwarna hijau muda dan kecoklatan. semakin tua daun akan berwarna hijau gelap. Bentuk daun ovate hingga elliptic dengan tulang daun menyirip, dan memiliki tepi daun yang rata (entire). Tanaman ini mempunyai pangkal daun yang tumpul (obtusus) dan ujung daun yang lancip. selain itu, memiliki permukaan daun yang licin (mengkilap). Daun pohon Buni membentuk kanopi yang rapat. Sehingga tanaman ini mampu menjadi tanaman pelindung dan tanaman pemecah angin.
3. Bunga
Tanaman Buni memiliki kelopak bunga berbentuk seperti mangkuk dengan bunga berukuran kecil yang tersusun dalam tandan. Memiliki banyak bunga, panjangnya 6-20 cm; bunga jantan duduk, kelopak bunga berbentuk mangkuk-lonceng (cupular) yang terdiri dari 3 - 4 kelopak pendek, tiap kelopak berbentuk bulat, benang sari 3 - 4, berwarna kemerahan; bunga betina bertangkai, memiliki 3 - 4 lobus yang berukuran sekitar 1 mm x 2 mm, ovarium berbentuk bulat telur, kepala putik 3 - 4, dengan diskus kecil; pada bunga betina, terdapat jumlah bunga yang besar. Bunga jantan tumbuh dalam tandan kecil dan bunga betina tumbuh di tandan panjang yang akan menjadi buah. Bunga tanaman ini majemuk karena sekelompok kuntum bunga yang terangkai pada satu ibu tangkai bunga atau pada suatu susunan tangkai-tangkai bunga yang lebih rumit. Memiliki bau yang menyengat dan beraroma agak tidak sedap. Bunga ini memiliki kelipatan mahkota 4 dan 5. Berwarna mula-mula hijau terang dan menjadi kemerah-merahan pada saat mekar, bunga jantan dan bunga betina terletak pada pohon yang berlainan (berumah dua). Perbungaan terminal atau aksilar, berbentuk bulir (spicata) atau rasemosa yang sempit Lobus bebas atau menutupi dasar benang sari dan putik. Benang sari jauh lebih pendek dari panjang sepal. benang sari terdiri dari 3 atau 4 (5), panjang 2-3 mm, keluar 1,5–2 mm dari kelopak. Kepala sari 0,5 x 0,7 mm; pistillode clavate menjadi silinder, biasanya muncul dari 0,5-1 mm, jarang memanjang hingga sama panjang dengan sepal, kadang-kadang gundul di bagian apikal. Perbungaan putik (4–)8–17 cm, aksila, sederhana atau lebih jarang terdiri dari hingga 4 cabang, Bunga putik 1,5 mm.
Sumber: https://www.ciriciripohon.com
4. Buah
Buah tanaman Buni berada dalam tandan dan merupakan buah majemuk. Buah berbentuk bulat telur atau bulat dengan ukuran kecil, Panjang dan lebarnya di bawah 1 cm. Buah yang masih muda berwarna hijau dan ketika akan matang menjadi merah lalu ungu kehitaman ketika benar-benar matang. Buah yang belum matang memiliki rasa yang masam dan saat sudah matang buah akan menjadi manis. Saat muda, buah berwarna hijau dan bentuknya memanjang. Saat matang, buah akan berubah menjadi bulat dan berwarna putih kuning, merah dan menghitam saat matang. Buah basah berair dan berdaging. Saat belum matang daging buah berwarna hijau keputihan dan setelah matang akan berwarna merah kehitam-hitaman. Setiap tandan buah matang secara tidak merata, sehingga buah-buahan dalam tandan semuanya memiliki warna berbeda-beda. Tangkai buah Buni mirip segerombol anggur yang ukurannya lebih kecil.
Sumber: Dokumen Pribadi
5. Biji
Biji relatif berukuran besar dibanding dengan daging buahnya, kira-kira berukuran panjang 6-8 mm dan lebar 4.5-5.5 mm. Biji tanaman Buni memiliki warna coklat atau kehijau-hijauan saat buah belum matang. Biji berbentuk bulat telur memanjang. Biji tidak berselaput (keras). Tanaman ini berbiji belah atau berkeping biji dua (dikotil). Bijinya dilindungi oleh daun buah atau karpel.
Sumber: Dokumen Pribadi
Tanaman Buni tumbuh paling baik di dataran rendah tropis yang panas dan lembab. Pohon ini tumbuh subur di ketinggian hingga 1.200 meter di Jawa. Pohon Buni tidak sepenuhnya tumbuhan tropis dan telah terbukti kuat hingga Florida tengah. Tumbuh paling baik di tempat cerah atau teduh terang di tanah subur dan tahan lembab. Habitat yang disukainya adalah Hutan cemara basah, hutan Dipterocarp dan hutan jati, di tepi sungai, di tepi hutan, di sepanjang tepi jalan, di rumpun bambu, di habitat yang teduh atau terbuka, biasanya di vegetasi sekunder tetapi juga di vegetasi primer. Buni banyak tumbuh di Kawasan Asia - China, India, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Filipina, Papua New Guinea, Australia utara hingga Kepulauan Pasifik. Persebaran tanaman Buni tumbuh liar di daerah-daerah basah di Andaman, Assam, Hawai, India, Sumatra, Thailand, Vietnam, Sri Lanka, Burma dan Malaysia. Di Indonesia telah dibudidayakan secara luas khususnya di Jawa. Buni telah dibudidayakan secara intensif pada banyak tempat di Indonesia, terutama di Jawa dan Indo-Cina. Sebaliknya, tumbuhan ini jarang dibudidayakan di Malaysia dan Filipina. Habitat Buni dapat tumbuh mulai dari dataran di atas permukaan laut hingga ketinggian di atas 1000 m dpl. Di Indonesia, Buni dapat tumbuh di daerah kering di bagian timur Jawa atau pun di bagian barat Jawa yang beriklim lembap. Tumbuhan ini biasanya tumbuh dan menjadi ciri khas sedang berlangsungnya proses suksesi tahap awal sebuah hutan sekunder.
a. Reproduksi Seksual/Generatif
Sumber: https://deden-arpega.blogspot.com
Tanaman Buni merupakan tanaman berumah dua. Sehingga, reproduksi seksual/generatif terjadi dengan penyerbukan silang. Serangga yang akan melakukan penyerbukan dengan membawa benang sari dari pohon Buni lain. Selanjutnya, tanaman Buni akan mengalami pembuahan ganda yaitu apabila serbuk sari jatuh di kepala putik maka serbuk sari akan melekat. Serbuk sari kemudian tumbuh menjadi buluh serbuk sari yang di dalamnya ada satu inti vegetatif dan dua inti generatif. Kemudian buluh serbuk sari akan menuju ruang bakal biji dengan inti vegetatif sebagai penunjuk jalan. Setelah sampai serbuk sari di dalam bakal biji, inti vegetative ini akan mati. Inti generatif 1 akan membuahi ovum untuk menghasilkan zigot sedangkan pada inti generatif 2 ini akan membuahi inti kandung lembaga sekunder yang berguna untuk menghasilkan cadangan makanan atau endosperm bagi calon individu baru.
Sumber: Biggs dkk., 2008
b. Reproduksi Aseksual/vegetatif
Sumber: https://chara.my.id
Tanaman Buni bereproduksi secara aseksual/vegetatif buatan dengan cara cangkok. Mencangkok dapat dilakukan dengan cara mengelupas kulit cabang hingga bagian kambium terlihat jelas. Setelahnya menutup bekas sayatan dengan media dan bungkus menggunakan plastic pembungkus dan sabut kelapa. Cara merawatnya siram tanaman secara rutin, setelah akar mulai tumbuh dari plastik hasil cangkok sudah boleh dipotong dan disemai. Cara penanaman buah buni jika ingin dilakukan dengan mencangkok yang harus dilakukan adalah dengan memilih cabang bibit yang memiliki diameter 2-5 cm untuk dicangkok. Tetapi juga harus diperhatikan apakah bibit yang akan dicangkok sudah memiliki akar berusia lebih dari 95 hari. Menanam pohon buah buni bisa juga dilakukan dengan memilih tunas yang sedikit lebih tua kira–kira memiliki panjang sekitar 3-4 cm. carilah bibit yang sudah memiliki tangkai daun dan berlentisel karena bibit ini nantinya akan digunakan sebagai media penempelan. Kemudian ketika sudah ingin melakukan penanaman di lapangan, usahakan untuk mengatur jarak tanaman sekitar 6-8 meter.
Budidaya Pohon Buni dapat dilakukan melalui Benih, Setiap kali benih digunakan, benih membutuhkan sekitar satu bulan setelah matang dan kemudian dapat disemai di bawah naungan tanpa perlakuan. Sedangkan Benih segar perlu perlakuan awal dengan asam sulfat selama 15 menit diikuti dengan perendaman dalam air selama 24 jam. Sedangkan Perbanyakan secara vegetatif lebih disukai karena jenis kelamin bibit tidak pasti dan Tanaman dapat mulai berproduksi saat berumur tiga tahun. Selain dengan benih, budidaya Pohon Buni juga dapat dilakukan dengan cara mencangkok. Cara mencangkok Pohon Buni yaitu:
Pohon dapat mulai menghasilkan buah dalam 5 - 6 tahun dari biji, atau hanya 2 - 3 tahun dari tanaman asal cangkokan. Pohon ini banyak dibudidayakan di berbagai daerah tropis untuk dipanen buahnya. Buah buni paling sering digunakan untuk membuat anggur, teh, selai, jeli, dan rujak. Tanaman Buni cukup mudah dirawat karena dapat hidup diberbagai tempat. Mulai dari yang lembab hingga kering.
a. Ekonomi
Selain sebagai penghasil buah yang dapat dimakan, pohon buni juga dimanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan dan perkakas rumah
b. Kesehatan
1. Menjaga kesehatan jantung
Buah buni merupakan salah satu buah herbal yang dapat membantu menjaga kesehatan jantung. Sebuah penelitian menunjukkan jika ekstrak buah buni dapat membantu menurunkan stress oksidatif dan peradangan pada jantung. Meski belum tahu pasti bagaimana cara kerja dari ekstrak buah buni ini, namun buah ini dianggap sebagai metode alternatif yang efektif untuk melawan perkembangan kerusakan jaringan pada jantung.
2. Menurunkan kadar gula darah
Gula darah dalam tubuh perlu dijaga agar tetap stabil dan tidak terlalu tinggi. Pasalnya, gula darah yang terlalu tinggi dapat memicu penyakit berbahaya seperti diabetes. Dalam buah buni terdapat kandungan polifenol yang cukup tinggi. Polifenol diketahui dapat membantu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh dan menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2.
3. Membantu mengontrol tekanan darah
Manfaat lain dari buah buni adalah dapat membantu mengontrol tekanan darah dalam tubuh. Buah buni dikenal dapat menyembuhkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hal ini dikarenakan terdapat kandungan polifenol dan antioksidan tinggi yang bersal dari ekstrak buah buni. Menjaga tekanan darah agar tetap stabil dan normal turut berkontribusi dalam mencegah terjadinya gangguan pada jantung. Hal ini dikarenakan tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.
4. Menjaga kesehatan pencernaan
Kandungan polifenol dalam buah buni yang cukup tinggi dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan. Polifenol dapat membantu pertumbuhan bakteri baik di bagian usus sekaligus mengurangi bakteri berbahaya penyebab gangguan pencernaan. Dengan begitu, pencernaan dapat bekerja lebih baik dan terhindar dari penyakit atau gangguan tertentu.
5. Mengatasi sembelit
Apabila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup banyak, buah buni dapat menjadi obat pencahar yang bisa menyembuhkan sembelit. Hal ini dikarenakan tingginya kandungan air dalam buah buni yang dapat membantu mengatasi sembelit apabila dikonsumsi. Namun, konsumsi buah buni ini perlu dihindari apabila mengalami sembelit bersamaan dengan masalah pencernaan lainnya. Sebaiknya konsultasikan kepada dokter lebih dulu sebelum mengonsumsi buah buni ini.
6. Membantu menurunkan berat badan
Kandungan polifenol dalam buah buni memiliki peran penting dalam hal ini. Mengonsumsi makanan dengan kandungan polifenol dapat membantu mencegah obesitas dan menjaga berat badan agar tetap ideal. Buah buni dapat dikonsumsi rganic dengan program diet yang sedang dijalankan.
7. Sumber antioksidan tinggi
Buah buni memiliki kandungan antioksidan tinggi yang dapat membantu melawan radikal bebas yang ada dalam tubuh. Pasalnya, radikal bebas yang berlebihan dapat memicu rgani oksidatif dan membuat sel mengalami kerusakan. Selain itu, kekurangan antioksidan dalam tubuh dapat memicu munculnya penyakit berbahaya seperti kanker. Daun dan buah dapat digunakan sebagai obat kurang darah, darah kotor, rajasinga, dan kencing nanah, Daun, kulit batang, dan akar A. bunius mengandung saponin dan rgani, disamping itu kulit batangnya juga mengandung flavonoid, dapat digunakan untuk tekanan darah tinggi, Kulit batang dan daun mengandung alkaloid yang berkhasiat obat. Ekstrak Buah Buni (Antidesma bunius) memiliki potensi antibakteri terhadap bakteri Gram positif B. cereus dan bakteri Gram rganic S. thypimurium
c. Industri
Meningkatnya konsumsi energi dunia dan berkurangnya ketersediaan bahan bakar fosil menyebabkan perkembangan energi bergeser menjadi bahan bakar renewable dan ramah lingkungan. Buah buni dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioethanol melalui fermentasi dengan variasi waktu fermentasi 2, 3, 4, 5 dan 6 hari dengan kadar yang baik. Proses fermentasi dilakukan dengan bantuan bakteri Saccharomyces cereviceae karena memiliki kelebihan yaitu tahan pada konsentrasi rganic yang tinggi, toleran terhadap suhu dan pH rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu fermentasi maka kadar bioethanol yang dihasilkan akan semakin meningkat. Bioethanol tertinggi yang dihasilkan fermentasi buah buni yaitu sebesar 57,42% pada waktu fermentasi di hari ke lima. Selain itu, dalam industri makanan dan minuman buah Buni dapat dibuat menjadi selai, atau difermentasi menjadi minuman rganic di Filipina dan Jawa. Dapat juga diolah menjadi sirup, bahan campuran rujak bebek, atau dimakan sebagai buah meja.
d. Lingkungan atau Ekosistem
Peran tumbuhan sangat penting dalam ekosistem, yaitu menjaga keseimbangan ekosistem. Peran penting tumbuhan dalam ekosistem sebagai berikut.
Lingkungan SMA NEGERI 7 Purworejo
Ade Rizky, C. K. (2021). Belajar Praktis Biologi SMA/MA Kelas X Semester 2. Klaten: Viva Pakarindo.
Administrator. (2019, Juni 26). Buni, Buah Pohon Langka yang Berkhasiat Tinggi. Retrieved from indonesia.go.id: https://indonesia.go.id/kategori/kuliner/869/buni-buah-pohon-langka-yang-berkhasiat-tinggi
Dirgantara, S. (2020, November 30). Pohon Buni: Pengenalan dan Manfaatnya. Retrieved from Flora Dirgantara: https://www.floradirgantara.site/2020/11/pohon-buni-pengenalan-manfaatnya.html
Eko, M. (2020, Juli 29). Tanaman Langka Buah Buni, Antidesma bunius L Spreng. Retrieved from Planter and Forester: https://www.planterandforester.com/2020/07/tanaman-langka-buah-buni-antidesma.html
HIMAKOVA. (2019, Oktober 28). BUNI SI MUNGIL YANG BERMANFAAT. Retrieved from HIMAKOVA: https://himakova.lk.ipb.ac.id/buni-si-mungil-yang-bermanfaat/
HOFFMANN, P. (2006). ANTIDESMA (Phyllanthaceae). Retrieved from Malesian Euphorbiaceae Descriptions: http://www.nationaalherbarium.nl/Euphorbs/specA/Antidesma.htm#Antidesma
Indra, R. (2021, Mei 29). Inilah 7 Manfaat Buah Buni Bagi Kesehatan Tubuh. Retrieved from Lemonilolife: https://www.lemonilo.com/blog/inilah-7-manfaat-buah-buni-bagi-kesehatan-tubuh
KEHATI. (2017, April 19). Buni. Retrieved from KEHATI: http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/buni
Padri, M. (2014). Atlas Tumbuhan Sulawesi Selatan. In O. J. Nani Kurnia, Atlas Tumbuhan Sulawesi Selatan (pp. 21-24). Makasar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Rudiyanto, A. (2016, April 30). Buni | Antidesma bunius L. Retrieved from KEHATI : https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/buni-antidesma-bunius-l/
Sam. (2020, Maret 10). Ciri-ciri Pohon Buni/Wuni (Antidesma bunius) Di Alam Liar. Retrieved from Ciri-Ciri Pohon: https://www.ciriciripohon.com/2020/03/ciri-ciri-pohon-buni-di-alam-liar.html
https://www.gbif.org/species/3076436
Guru Pembimbing: Dra. Asiyah
Konten: Ihaburizaq Cerdin Romindra (X MIPA 2), Tsalsa Arina Rahmah (X MIPA 2), Rhiefni Raralaraswuri Putri (X MIPA 5)
Editor: Zahra Aptari
Admin: Risang Palgunadi, S. Hum.; Sophia Saphira
TA 2021/2022