1. Akar
Pohon mampat memiliki akar tunggang. Akar tunggang adalah akar yang besar, sentral, dan dominan dari mana akar lain bertunas secara lateral. Biasanya akar tunggang agak lurus dan sangat tebal, bentuknya meruncing, dan tumbuh langsung ke bawah. Akar dari pohon mampat ini termasuk jenis akar berkambium. Pada tumbuhan, kambium berfungsi untuk membentuk xylem dan floem. Dari aktivitas pembelahan kambium ini, maka akan berpengaruh pada pertumbuhan batang tumbuhan.
2. Batang
Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan tinggi hingga 30 m, tetapi di Singapura, biasanya 10 m atau lebih pendek seperti pada gambar hanya 2m. Batang berkambium dan termasuk batang pohon, kulitnya yang halus bersisik dan berwarna kuning kecoklatan pucat.
3. Daun
Daun dari pohon mampat tergolong jenis daun majemuk karena tangkainya bercabang-cabang, dan baru pada cabang tangkai ini terdapat helaian daunnya, sehingga di sini pada satu tangkai terdapat lebih dari satu helaian daun. Daun dengan susunan yang demikian disebut daun majemuk (folium compositium). Daun bertangkai memiliki bilah daun berdaging hingga tipis yang berbentuk lonjong dan berukuran 3–13 kali 1–4,4 cm, dengan titik kelenjar kecil. Tepi daunnya rata, pangkal daunnya lancip, dan dengan permukaan daun yang halus.
4. Bunga
Bunganya yang agak harum memiliki lebar 1,3–2,5 cm, dengan kelopak merah tua hingga merah muda atau oranye kemerah-merahan. Mereka biasanya ditemukan berpasangan, pada tunas berbunga sepanjang 5,1-15 cm yang terjadi di ujung cabang, atau sudut daun. Bunga ini termasuk bunga majemuk. Bakal buahnya terlindungi oleh daun buah.
5. Buah
Buahnya cokelatnya berbentuk lonjong, berukuran 8–13 kali 4-5 mm, dan dua pertiga hingga tiga perempat panjangnya ditutupi oleh sepal. Buah dari Pohon Mampat ini memiliki rasa yang pahit.
6. Biji
Bijinya berbentuk bulat kecil hingga berukuran 6–8 kali 2-3 mm, dan banyak per buah. Bijinya dilepaskan ketika buah matang terbelah. Bijinya berwarna cokelat tua.
Cratoxylum cochinchinense tumbuh secara alami dari Cina Selatan hingga Kalimantan. Tumbuhan ini biasanya tumbuh pada semak belukar, padang rumput, lereng gunung yang kering dan cerah, perbukitan pada ketinggian hingga 500 meter, naik ke 1.200 meter di Cina Selatan. Selain itu, Cratoxylum cochinchinense juga memiliki habitat lain yakni pada hutan tropis. Cratoxylum cochinchinense tumbuh dengan baik di hutan tropis karena cuaca yang tidak esktrem, daerah tropis juga cenderung memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan tanah menjadi subur dan dapat ditumbuhi oleh berbagai macam tanaman (flora) yang dapat menjadi tempat tinggal sekaligus sumber kehidupan. Tanaman ini juga terdapat pada hutan kerangas. Hutan kerangas adalah hutan yang memiliki lahan ekstrem dan rawan atau sangat peka terhadap gangguan misalnya kebakaran. Sebutan tersebut diberikan karena kandungan tanah yang membentuk hutan kerangas sangat miskin unsur hara. Vegetasi yang mampu bertahan di hutan kerangas umumnya telah beradaptasi secara luar biasa karena kondisi tanah hutan kerangas memang sangat ekstrem. Bahkan Cratoxylum cochinchinense juga dapat tumbuh di daerah tanah gambut. Tanah gambut umumnya memiliki kesuburan yang rendah, ditandai dengan pH rendah (masam), ketersediaan sejumlah unsur hara makro (K, Ca, Mg, P) dan mikro (Cu, Zn, Mn, dan B) yang rendah, mengandung asam-asam organik yang beracun, serta memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi tetapi Kejenuhan Basa (KB) rendah.
a. Seksual (generative)
Reproduksi generatif dengan bunga (putik dan benang sari) lalu menghasilkan buah dan biji. Jika buah masak lazimnya ia akan gugur sendiri di atas tanah.
b. Reproduksi aseksual (vegetative)
Tanaman mampat tidak bereproduksi secara vegetatif. Untuk vegetative buatan, kulit batang mampat ini tipis sehingga tidak bisa dikembangbiakkan dengan osilasi.
a. Budidaya
b. Pemupukan
c. Pemangkasan
Setelah mencapai tinggi 1 m, bibit dipangkas pada perbatasan bidang pertumbuhan agar dapat bercabang banyak. Cabang ini dipelihara 2-3 tunas per cabang. Pemangkasan diulang setelah cabang baru mencapai panjang 1 m, demikian seterusnya hingga diperoleh susunan 1-3-9 cabang.
d. Pemeliharaan, Pengendalian Hama, dan Penyakit Hama
Hama yang merisaukan adalah penggerek batang (Cryptorrhynchus sp) dan kumbang cicade (Idiocerus niueosparsus). Serangga hama pengisap Idiocerus sangat merusak bunga mangga hingga berguguran. Jumlah bunga betina rendah dengan pembuahan oleh tepung sari yang lemah. Hama ini dapat diatasi dengan semprotan insektisida sistemik Tamaron 0,2%. Pemberian insektisida melalui infus lebih dianjurkan untuk menghindari pengaruh jelek terhadap kumbang penyerbuknya.
e. Penyakit
Penyakit yang sering menyerang, terutama di daerah beriklim basah adalah penyakit blendok (lh'plodia sp.), mati pucuk (Gloeosporium sp.), dan penyakit pascapanen (Botryodiplodia sp).
a. Ekonomi
Tunas muda dapat digunakan sebagai sayuran mentah, kayunya bisa digunakan sebagai perkakas, buahnya yang masih muda digunakan sebagai bumbu masakan, daun mudanya digunakan sebagai pengganti teh yang tentunya dapat menjadi bahan makanan alternatif dan nilai ekonomisnya tinggi.
b. Kesehatan
Akar, kulit kayu, dan ranting pohon mampat jika diolah dapat digunakan sebagai obat masuk angin dan diare. Kulit kayu dan daunnya, ditumbuk dan dicampur dengan santan, dioleskan sebagai pengobatan untuk masalah kulit.
c. Industri
Kulit kayu digunakan sebagai pewarna berwarna cokelat, kayunya digunakan untuk membuat potongan kayu, gagang perkakas dan palet kayu (Wong, 1995) dan juga digunakan untuk konstruksi, lemari, furnitur, dan perlengkapan bagian dalam (National Parks Board Singapore, 2019). Pohon ini cocok sebagai tanaman hias karena fitur yang diinginkan seperti bunga dan kulit kayu yang menarik, toleransi terhadap paparan sinar matahari penuh dan biaya perawatan yang moderat (National Parks Board Singapore, 2019).
d. Lingkungan atau Ekosistem
Manfaat bagi tanah yakni membentuk hubungan simbiosis dengan jamur dan bakteri yang membantu kondisi dan menambah nutrisi ke tanah di sekitarnya. Untuk serangga, sebagian besar angiospermae sangat bergantung pada serangga untuk menyerbuki mereka. Ini termasuk lebah, kupu-kupu, ngengat, lalat, dan kumbang. Untuk memikat penyerbuk ini, mereka menghasilkan aroma, kelopak cerah dan nektar berbau manis (atau busuk). Untuk masalah mereka, penyerbuk memakan nektar manis, memanen serbuk sari kaya nutrisi, dan juga memastikan ketersediaan pakan di masa depan dengan memupuk bunga. Tetapi bahkan batang, biji, buah, daun dan akar tanaman ini menyediakan makanan dan tempat berteduh bagi dunia serangga.
Lingkungan SMA Negeri 7 Purworejo
https://www.gbif.org/species/3712064
https://www.google.com/search?q=daun+majemuk+adalah&oq=daun
+majemuk+adalah&aqs=chrome.0.0i512j0i22i30l7.4487j0j9&client= ms-android-oppo&sourceid=chrome-mobile&ie=UTF-8
https://www.google.com/search?q=tanah+gambut&oq=tanah+gambut &aqs=chrome..69i57j0i10l4j46i10j0i10l2.2321j0j9&client=ms- android-oppo&sourceid=chrome-mobile&ie=UTF-8
https://www.google.com/search?q=kenapa+tumbuhan+subur+di+huta n+tropis&oq=kenapa+tumbuhan+subur+di+hutan+tropis&aqs=chrom e..69i57.9722j0j9&client=ms-android-oppo&sourceid=chrome- mobile&ie=UTF-8
https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/8/2829
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Cratoxylum_cochinchinense
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Akar_tunggang
https://floraofsingapore.wordpress.com/2010/07/10/cratoxylum- cochinchinense/amp/
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hutan_kerangas
https://www.sridianti.com/biologi/9-manfaat-tumbuhan- angiospermae.html
Guru Pembimbing: Dra. Asiyah
Konten: Laila Indah Rahmadani (X MIPA 1)
Editor: Zahra Aptari
Admin: Risang Palgunadi, S. Hum.; Sophia Saphira
TA 2021/2022